Kamis, 10 Maret 2011

Punya Kain Batik Belum Tentu Kenal Batik

"Ketiadaan referensi tertulis mengenai koleksi motif atau corak batik tradisional menyebabkan kesenjangan pengetahuan antargenerasi. Masalah akan muncul ketika generasi tua tak sempat menurunkan seluruh ilmunya kepada generasi muda. Kesenjangan ini menimbulkan ketidakmengertian generasi muda akan kekayaan warisan masa lalu. Kita tidak menyadari bahwa sesungguhnya batik Jawa kaya akan corak dan motif, yang jumlahnya bisa mencapai ribuan," begitu tulisan dalam siaran kepada pers saat peluncuran buku Teknik Ragam Hias Batik Yogya dan Solo yang berlangsung di Restoran Palalada, Grand Indonesia Shopping Town, Kamis, 10 Maret 2011.

Konon, pola batik sudah ada dalam masyarakat Indonesia sejak abad XII di Kediri, Jawa Timur. Namun, ternyata pola batik pun pernah ditemukan pula di Mesir Kuno sejak abad IV SM, juga ada di China, sejak tahun 618-794. Tetapi tidak ada literatur khusus yang mengungkapkan hal ini. Belum banyak pula literatur yang menerangkan secara pasti arti dari motif dan corak batik yang sudah berkembang begitu banyaknya, mungkin saat ini jumlahnya mencapai ribuan.

Tak ingin motif batik beserta kearifan dan nilai filosofis yang terkandung di dalamnya hilang, seorang intelektual Jawa, Ir Sri Soedewi Samsi, menuliskan sebuah buku bertajuk Teknik Ragam Hias Batik Yogya dan Solo. Dalam buku tersebut, Ibu Dewi, begitu ia biasa disapa, berniat mengekalkan pola batik lewat bukunya agar generasi muda Indonesia bisa mempelajari dan melestarikan warisan leluhur.


Sejak tahun 1970-an, Ibu Dewi telah mengumpulkan corak dan motif batik tradisional. Ia berkeliling dari desa ke desa di Yogyakarta dan Solo untuk mencari ciri khas corak batik desa setempat. Dari penelusurannya itu, wanita yang kini berusia 81 tahun ini biasanya hanya menemukan kain batik siap pakai, seperti selendang, kain panjang, taplak, dan sebagainya. Dari kain-kain tersebut Ibu Dewi mempelajari lekuk, garis, dan ornamen yang ada di dalamnya untuk kemudian diterjemahkan dalam bentuk gambar atau pola. Dibantu seorang peggambar pola batik asal Jawa, Mangundikarso (almarhumah), Ibu Dewi menggambar ulang tiap motif secara detail dan menamainya sesuai nama yang dikenal masyarakat, kemudian dikelompokkan sesuai jenisnya.

Perjalanan sejak tahun 1970-an tersebut membawa Ibu Dewi meluncurkan buku ini bersama Titian Foundation dan Bank Panin. Buku ini terbagi menjadi 2 bagian, di halaman awal, Ibu Dewi menceritakan mengenai cara aspek teknis dari batik dan cara pembuatannya, mulai dari alat-alat yang digunakan, bagaimana cara menggambar garis dan pola, metode pewarnaan, dan resep kimia, hingga sedikit sejarah tentang batik. Di bagian kedua, beliau menggambarkan pola-pola batik yang pernah ia temui di daerah Yogyakarta dan Solo yang ia bagi lagi menjadi 2 bagian: geometris dan nongeometris yang digambarkan dengan ukuran asli.

Dalam buku yang berisi sekitar 600 halaman tersebut terdapat sekitar 370 corak atau motif batik dari ribuan koleksi yang ada. Ibu Dewi yang lulusan Teknik Kimia ini juga mencatat begitu banyaknya desain turunan dari motif-motif awal. Contohnya, motif parang dan kawung, yang ditemukan ibu Dewi kini setidaknya ada 60 jenis motif parang turunan, seperti parang harjuno, parang sisik, parang srimpi, dan sebagainya. Atau kawung, yang ditemukan oleh ibu Dewi, setidaknya terdapat sekitar 23 jenis variasi kawung, seperti kawung gringsing, kawung picis, kawung ukel, dan lainnya.

Buku ini awalnya hanya dicetak 1.000 buah, sebanyak 800 akan disebarkan ke sekolah-sekolah, perajin batik, dan lainnya. Sisanya akan dijual dengan harga Rp 390.000. "Di bulan April akan dicetak lagi dalam bahasa Inggris, itu harganya beda lagi. Yang 200 untuk dijual ini saja mungkin akan langsung habis," ujar Anton Diaz, penulis gaya hidup sekaligus bagian dari panitia peluncuran buku ini.

Ibu Dewi, yang pernah menjabat sebagai Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Kerajinan dan Batik serta rektor IKIP Yogyakarta ini mengungkap ingin bukunya ini bisa dimengerti dan banyak dijiplak siapa pun yang berminat terhadap batik, bekerja di industri pembatikan, terutama industri batik rakyat. "Motif-motif ini milik rakyat dan akan saya kembalikan lagi ke rakyat. Tugas saya hanya mengumpulkan dari berbagai pelosok, merekonstruksi dan menggambarkan ulang dalam bentuk yang siap pakai agar masyarakat bisa menjiplaknya dengan mudah," begitu tutur ibu Dewi.


Sumber : kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar